Melakukan banyak kegiatan dalam satu waktu sekaligus atau me-multitask membuat otak lamban memproses informasi, selain itu Ternyata Bekerja Multitasking Dapat Menurunkan IQ

Ternyata Bekerja Multitasking Dapat Menurunkan IQ

Ternyata Bekerja Multitasking Dapat Menurunkan IQ — Banyak orang berfikir bahwa kebiasaan multitasking bisa membuat pekerjaan jadi lebih cepat selesai, fokus dan efisien. Tetapi pada kenyataannya, banyak peneliti percaya bahwa otak manusia tidak bisa mengerjakan dua atau lebih tugas secara bersamaan.

Sebuah penelitian seorang neurosaintis MIT di US menyimpulkan bahwa otak kita tidak dibuat untuk multitask. Saat seseorang merasa dirinya ber-multitask, sebenarnya ia hanya berganti-ganti aktifitas dengan sangat cepat. Dan setiap kali ia melakukan hal ini, ada konsekuensi yang harus ditanggung.

Saat orang (merasa) melakukan multitask menyebabkan prefontal cortex dan striatum menghabiskan glukosa teroksigenasi. Kandungan ini yang memungkinkan seseorang berfokus pada pekerjaan. Saat (merasa) ber-multitask dengan cepat, maka kandungan ini terbakar cepat. Akibatnya, orang tersebut menjadi lelah dan linglung setelah beberapa waktu. Kelelahan kinerja secara kognitif dan fisik pun terjadi.

Berpindah-pindah aktifitas seperti ini pun juga memicu ketegangan. Hal ini mendorong hormon kortisol penyebab stress meningkat. Yang berakibat munculnya perilaku agresif dan impulsif. Bersamaan dengan proses ini, terjadi loop berupa feedback dopamine. Otak akan mudah hilang fokus. Otak pun akan mencari stimulasi eksternal yang memberikan efek kebaruan dan menyenangkan. Akibatnya, aktifitas yang baru atau ditunggu-tunggu bisa mengalihkan fokus dari aktifitas yang mungkin lebih penting.

Sebuah studi di Universitas London mendapatkan fakta yang mengusik fikiran. Hasilnya, para peserta penelitian yang ber-multitask mengalami penurunan IQ. Penurunan IQ ini serupa efek merokok marijuana atau ganja, dan juga pada orang yang begadang semalam suntuk. IQ para peserta penelitian ini turun hingga 15 poin yang dapat dikatakan setara IQ anak usia 8 tahun. Sedang hasil studi University of Sussex mengungkap bahwa mutitask secara permanen merusak otak. Hasil scan MRI dari para multitasker tulen memperlihatkan pengecilan volume otak di bagian anterior cingulate cortex. Bagian ini berfungsi mengatur rasa empati dan kontrol emosi.

Multitask pun bukan hanya pada pekerjaan. Saat anak Anda menonton TV sembari sambil belajar juga merupakan multitask yang memberi efek tidak baik. Russ Poldrack, seorang neurologis di Stanford menemukan fakta mencengangkan. Jika anak belajar sambil melihat TV, informasi yang salah bisa masuk ke bagian otak yang salah. Informasi pelajaran masuk ke striatum, bagian yang menyimpan memori skill dan prosedur, bukan informasi tentang fakta dan pelajaran. Tanpa TV sebagai distraksi, informasi pelajaran harusnya masuk ke hippocampus agar mudah diingat kembali.

Walau hasil pasti akibat dari multitask masih belum final, namun hasil yang ada bisa menjadi cerminan. Betapa otak kita memang bukan pekerja yang bisa segala hal dalam satu waktu. Baiknya memilah dan mengerjakan satu persatu pekerjaan bisa dilakukan. Memberi minimum-dose atau dosis hormon minimun pada otak saat bekerja memberikan efek kesehatan yang lebih baik. Menyelesaikan satu persatu pekerjaan dengan pencapain yang tuntas akan lebih memberi ketenangan.

Ada juga dampak negatif lainnya dari multitasking

  • Mengurangi produktivitas

Menurut Guy Winch, PhD, penulis Emotional First Aid: Practical Strategies for Treating Failure, Rejection, Guilt and Other Everyday Psychological Injuries, yang dikutip oleh situs Health, ketika suatu hal memerlukan perhatian dan produktivitas, maka kinerja otak pun terbatas. Satu hal saja memerlukan fokus lebih, coba bayangkan ketika Anda melakukan lebih dari dua hal sekaligus?

Mungkin kita semua akan membela diri dengan mengatakan bahwa multitasking membuat pekerjaan menjadi cepat beres. Faktanya, ketika Anda bolak-balik mengerjakan beberapa tugas dalam waktu yang sama, ini tidak membuat Anda lebih produktif. Menurut Winch, perhatian Anda terfokus pada ‘pergantian’ tugas tersebut, bukan pada tugasnya. Misalnya Anda harus menelpon seseorang, tapi Anda juga harus membalas email. Kemungkinan ketika Anda sedang menelpon sambil membalas email, yang Anda fokuskan adalah peringatan ‘membalas email’ di otak Anda, bukan pada isi dari email tersebut.

  • Membuat kinerja Anda melambat

Alasan kita melakukan multitasking adalah agar semua kegiatan dapat berjalan tepat waktu. Faktanya, multitasking tidak selalu menyelamatkan waktu Anda. Dua tugas dikerjakan secara bergantian pada waktu yang sama tidak membuat Anda cepat menyelesaikannya, otak Anda akan kebingungan sendiri. Sebuah penelitian dari University of Utah pada tahun 2008 yang dikutip situs Health, menunjukkan beberapa pengemudi lebih lama untuk sampai pada tujuan ketika mereka menyetir sambil chatting lewat telponnya.

  • Membuat kesalahan

Para ahli setuju bahwa melakukan multitasking dapat menyebabkan kehilangan produktivitas sekitar 40%. Anda juga tidak terbebas dari kesalahan. Ilmuwan dari Institut National de la Santé et de la Recherche Médicale (INSERM) di Paris, yang dikutip dari situs Brain Facts, meneliti suatu grup yang diminta untuk melakukan dua tugas secara bersamaan, salah satu tugas tersebut akan ditawarkan penghargaan jika hasilnya baik.

Hasilnya, ilmuwan menemukan adanya aktivitas sel saraf hanya di satu sisi bagian korteks prefrontal  – bagian yang mengatur fungsi neuropsikiatri (perencanaan, pengaturan, penyelesaian masalah, kepribadian).  Ketika penghargaan ditawarkan lebih besar untuk tugas lainnya, maka sisi korteks yang lain pun mulai aktif. Tapi, saat ilmuwan meminta partisipan untuk menyelesaikan tugas lainnya, kesalahan dalam pengerjaan pun mulai terlihat. Hal ini disebabkan karena otak kita hanya siap untuk melakukan dua fokus secara bersamaan saja.

  • Membuat Anda lebih stres

Peneliti dari University of California Irvine mengukur denyut jantung karyawan yang bekerja dengan atau tanpa akses konstan pada email kantor. Mereka yang konstan mendapat email menunjukkan denyut jantung yang meningkat. Sedangkan, mereka yang tidak secara konstan mengakses email, lebih sedikit melakukan multitasking, dan tingkat stresnya pun lebih rendah. Contoh lainnya, ketika ujian tiba, kita harus belajar. Namun, saat itu ada pertandingan olahraga yang kita sukai, tidak jarang, kita memutuskan belajar sambil menonton televisi. Alhasil, tindakan tersebut akan semakin membuat Anda tertekan, sebab harus melakukan dua tugas bersamaan.

  • Kehilangan momen kehidupan

Ketika Anda melakukan dua hal secara bersamaan tentu sudah menarik seluruh perhatian Anda pada dua hal tersebut. Anda mungkin jadi sering melewatkan peristiwa-peristiwa sederhana yang terjadi di depan Anda. Misalnya, ketika dalam perjalanan ke kampus atau kantor, Anda lebih sering berjalan sambil memerhatikan ponsel, tidak menyadari kehadiran teman lama yang berada beberapa meter saja. Tidak memerhatikan sekitar, terkadang bisa mengundang bahaya, seperti tidak memperhatikan lubang galian di pinggir jalan saat berjalan kaki, sehingga akhirnya Anda terjerembab.

  • Kehilangan detil penting

Membaca buku sambil menonton televisi bukan ide yang bagus, Anda akan melupakan beberapa detil penting dari buku atau acara televisi tersebut. Interupsi pada satu tugas dapat menyebabkan gangguan pada memori jangka pendek Anda. Apalagi kemampuan kita untuk mengingat pun akan melemah, seiring dengan bertambahnya usia. Jika Anda menambahnya dengan multitasking, memori kita pun akan terganggu.

  • Merusak hubungan Anda dan pasangan

Sering kali kita jumpai sepasang kekasih atau suami-istri duduk bersama dalam satu meja, namun tak ada satu pun yang memulai pembicaraan, keduanya aktif melihat ponsel masing-masing. Entah apa yang mereka lakukan dengan ponselnya. Tentu saja, hal itu akan mengganggu kualitas waktu bersama, komunikasi pun perlahan akan renggang. Apalagi, saat salah satu diantara pasangan tidak menyukai tindakan ‘melihat ponsel’ saat mengobrol atau makan. Hal tersebut akan menjadi permasalahan yang serius.

Demikianlah penjelasan mengenai bahaya multitasking yang Ternyata Bekerja Multitasking Dapat Menurunkan IQ. Segera hentikan kebiasaan tersebut jika tidak ingin hal-hal diatas terjadi pada anda.
Terus kunjungi situs http://manfaatkoloklincapsuleuntukkesehatan.com untuk selalu update informasi penting dan menarik mengenai kesehatan.

Ternyata Bekerja Multitasking Dapat Menurunkan IQ

Ternyata Bekerja Multitasking Dapat Menurunkan IQ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *