Pernah mengalami atau punya teman yang bersikukuh mencintai pasangannya walaupun jelas-jelas disiksa? Fenomena ini dikenal dengan nama Stockholm Syndrome.

Selamat datang kembali di website Alfian Herbal yaitu agen resmi Green World yang merupakan pusat penjualan obat herbal online terbaesar dan terpercaya yang menyediakan berbagai suplemen berkhasiat yang terbuat dari bahan alami. Kami melayani pesanan dan pengiriman ke seluruh wilayah Idonesia dan luar negeri.

Pada postingan kali ini kami akan membahas seputar Sindrom Stockholm yaitu dimana ketika korban bersimpati pada pelaku. Untuk anda yang masih bingung dan belum mengetahui, simak informasi berikut ini.

Sindrom Stockholm, Ketika Korban Bersimpati Pada Pelaku

stockholm-syndrome-logo

Sindrom Stockholm, Ketika Korban Bersimpati Pada Pelaku – Sindrom Stockholm adalah sebuah reaksi psikologis yang ditandai oleh rasa simpatik atau kasih sayang yang muncul dari korban penculikan terhadap pelaku. Namun, akhir-akhir ini definisi sindrom Stockholm makin meluas, tak hanya mencakup kasus penculikan saja tetapi juga kasus kekerasan dan abuse.

Sebenarnya, Stockholm Syndrome bukanlah jenis penyakit baru. Di ruang-ruang konsultasi dan perawatan psikologi di seluruh dunia, nama penyakit ini sudah populer sejak tahun 70-an. Namun di Indonesia, istilah ini hanya dikenal oleh kalangan terbatas, terutama dosen dan mahasiswa jurusan psikologi; jadi bagi publik masih merupakan hal baru.

Mengapa Bisa Terjadi Sindrom Stockholm ??

Sindrom Stockholm muncul sebagai reaksi formasi (juga dikenal sebagai pembentukan reaksi) yang terjadi karena korban mengalami tekanan emosional dan fisik yang sangat serius. Reaksi formasi sendiri merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri yang secara sadar atau tidak sadar dibentuk oleh korban untuk melindungi diri dari kejadian traumatis, konflik, serta berbagai perasaan negatif seperti stres, gelisah, takut, malu, atau marah. Pada dasarnya, reaksi formasi berarti korban justru menunjukkan perilaku atau sikap yang berlawanan dengan apa yang sesungguhnya dirasakan.

Ketika seorang sandera atau korban kekerasan dalam rumah tangga ditahan dalam situasi yang menakutkan, korban akan merasa marah, malu, sedih, takut, dan benci pada pelaku. Namun, menanggung beban perasaan-perasaan tersebut untuk waktu yang cukup lama akan membuat mental korban kelelahan. Akibatnya, korban mulai membentuk mekanisme pertahanan diri dengan cara membentuk reaksi yang berlawanan sepenuhnya dengan apa yang sesungguhnya dirasakan. Maka, rasa takut akan berubah menjadi rasa iba, amarah akan berubah menjadi kasih sayang, dan kebencian akan berubah menjadi rasa solidaritas.

Selain itu, beberapa ahli menyebutkan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan penyandera seperti memberi makan atau membiarkan korban hidup justru diterjemahkan korban sebagai bentuk penyelamatan. Ini mungkin terjadi karena korban merasa bahwa nyawanya terancam dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan dan menerima dirinya adalah pelaku itu sendiri lewat makanan yang diberikan atau membiarkan korban tetap hidup.

Pada beberapa kasus, korban bahkan bisa merasakan kedekatan emosional dengan pelaku. Interaksi dan komunikasi yang intens antara pelaku dan korban yang biasanya terisolasi bisa membuat korban melihat kemiripan dirinya dengan pelaku entah secara sosial, emosional, atau psikologis. Dari situ, muncullah rasa iba dan simpati terhadap pelaku.

Mengapa disebut Sindrom Stockholm?

Nama sindrom Stockholm diambil dari sebuah kasus perampokan bank Sveritges Kreditbank yang terjadi pada 1973 di  Stockholm, Swedia. Perampokan ini dimulai ketika seorang penjahat ulung bernama Jan-Erik Olsson menyerbu masuk bank tersebut bermodalkan senjata api. Empat orang karyawan bank tersebut terjebak di dalam dan dijadikan sandera oleh pelaku. Tak lama kemudian, rekan kriminal Jan-Erik Olsson yang ditemuinya di penjara, Clark Olofsson, ikut membantu penyanderaan tersebut. Para sandera dikurung dalam sebuah ruang penyimpanan uang (vault) selama 131 jam atau sekitar 6 hari. Laporan investigasi menunjukkan bahwa selama itu, para sandera menerima berbagai perlakuan kejam serta ancaman pembunuhan.

Namun, ketika para polisi mengusahakan negosiasi dengan kedua perampok, empat orang sandera tersebut justru membantu dan menawarkan saran bagi Jan-Erik dan Clark supaya tidak menyerah pada polisi. Mereka bahkan mengkritik usaha polisi dan pemerintah yang tidak peka terhadap cara pandang kedua perampok yang menyandera mereka. Setelah kedua perampok tertangkap, keempat sandera menolak untuk bersaksi melawan Jan-Erik dan Clark di pengadilan. Mereka justru menyatakan bahwa para perampok tersebut telah mengembalikan hidup mereka dan mereka lebih takut pada aparat kepolisian daripada kedua perampok. Satu-satunya sandera perempuan dalam perampokan tersebut bahkan menyatakan cintanya pada Jan-Erik hingga mereka bertunangan.

Istilah sindrom Stockholm lahir dari fenomena ini ketika seorang kriminolog dan psikiater, Nils Bejerot, menggunakannya sebagai penjelasan terhadap apa yang dialami oleh para korban sandera. Sejak itu, kasus-kasus serupa juga dikenal sebagai sindrom Stockholm.

Tanda-tanda Sindrom Stockholm

Sindrom Stockholm merupakan suatu kelainan dan penyalahgunaan relasi yang tidak sehat. Maka, layaknya sindrom lainnya, sindrom Stockholm juga menunjukkan tanda-tanda atau gejala. Berikut adalah berbagai gejala sindrom Stockholm yang muncul pada korban.

  • Berkembangnya perasaan positif terhadap penculik, penyandera, atau pelaku kekerasan
  • Berkembangnya perasaan negatif terhadap keluarga, kerabat, pihak berwenang, atau masyarakat yang berusaha untuk membebaskan atau menyelamatkan korban dari pelaku
  • Memperlihatkan dukungan dan persetujuan terhadap kata-kata, tindakan, dan nilai-nilai yang dipercaya pelaku
  • Ada perasaan positif yang muncul atau disampaikan oleh pelaku terhadap korban
  • Korban secara sukarela membantu pelaku, bahkan untuk melakukan tindak kejahatan
  • Tidak mau berpartisipasi maupun terlibat dalam usaha pembebasan atau penyelamatan korban dari pelaku

Penyembuhan korban sindrom Stockholm

Penyembuhan bagi korban sindrom Stockholm tak bisa dilakukan dalam sekejap. Usaha merehabilitasi korban akan memakan waktu dan proses yang cukup panjang, tergantung pada seberapa kuat hubungan yang dibangun dengan pelaku dan apakah korban masih berkomunikasi dengan pelaku. Seperti kebanyakan kasus trauma serius, pendekatan suportif dan psikoterapi harus dijalankan. Perhatikan juga apabila ada komplikasi seperti depresi agar bisa segera ditangani dengan baik.

Begitulah informasi seputar sindrom stockholm yaitu ketika korban bersimpati pada pelaku. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan anda semua. Terima kasih

Terus kunjungi situs http://manfaatkoloklincapsuleuntukkesehatan.com untuk update informasi penting dan menarik seputar kesehatan.

Sindrom Stockholm, Ketika Korban Bersimpati Pada Pelaku

Sindrom Stockholm, Ketika Korban Bersimpati Pada Pelaku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *