Pernahkan melihat seseorang dengan rumah yang banyak dengan tumpukan barang? atau seseorang yang mengumpulkan barang-barang yang sebenarnya tidak memiliki nilai? Mungkin saja ia adalah orang yang mengalami gangguan mental yaitu Hoarding Disorder. Inilah informasi lengkapnya mengenai Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Nimbun Barang Bekas

Selamat datang kembali di salah satu situs milik Alfian Herbal agen resmi Green World yatu pusat penjualan obat herbal online terbesar dan terpercaya yang menjual berbagai jenis suplemen dan vitamin yang terbuat dari bahan alami tanpa tercampur bahan kimia.

Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Menyimpan Sampah

Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Nimbun Barang Bekas

Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Menyimpan Sampah — Gangguan hoarding adalah kesulitan terus-menerus membuang atau berpisah dengan benda-benda karena merasa butuh untuk menyelamatkannya. Seseorang dengan gangguan hoarding mengalami kesulitan memikirkan untuk menyingkirkan benda. Akumulasi benda berlebihan, terlepas dari nilai sebenarnya, terjadi pada penderita gangguan ini.

Hoarding sering menciptakan kondisi hidup sempit sehingga rumah dapat terisi penuh, hanya dengan jalur sempit berkelok-kelok melalui tumpukan kekacauan. Beberapa orang juga mengumpulkan hewan, menjaga puluhan atau ratusan hewan peliharaan dalam kondisi tidak sehat karena mereka tidak bisa merawat mereka dengan baik.

Hoarding berkisar dari ringan hingga berat. Dalam beberapa kasus, hoarding mungkin tidak memiliki banyak dampak pada kehidupan Anda, sementara dalam kasus lain yang lebih serius dapat mempengaruhi fungsi setiap hari.

Orang dengan gangguan hoarding sering tidak melihat itu sebagai masalah, membuat pengobatan sulit dilakukan. Tapi perawatan intensif dapat membantu orang dengan gangguan hoarding memahami dorongan mereka dan hidup lebih aman, hidup lebih menyenangkan.

Gejala Hoarding

Di rumah orang-orang yang menderita gangguan hoarding, countertops, wastafel, kompor, meja, tangga dan hampir semua permukaan lainnya biasanya ditumpuk dengan barang-barang. Dan ketika tidak ada lebih banyak ruang di dalam, kekacauan dapat menyebar ke garasi, kendaraan dan halaman.

Kekacauan dan kesulitan membuang benda-benda biasanya merupakan tanda-tanda dan gejala gangguan hoarding, yang sering muncul selama tahun-tahun remaja pertama. Saat orang tumbuh dewasa, gejala biasanya dimulai dengan memperoleh item-item atau ruang yang tidak perlu. Pada usia pertengahan, gejala sering parah dan mungkin lebih sulit untuk diobati.

Gangguan hoarding mempengaruhi emosi, pikiran dan perilaku. Tanda dan gejala termasuk :

  • Ketidakmampuan persisten untuk berpisah dengan benda apapun, terlepas dari nilainya
  • Keterikatan berlebihan pada benda, termasuk ketidaknyamanan membiarkan orang lain menyentuh atau meminjam mereka atau kesusahan membiarkan benda tersebut pergi
  • Ruangan berantakan, membuat daerah rumah tidak dapat digunakan untuk tujuan yang dimaksudkan, seperti tidak bisa memasak di dapur atau menggunakan kamar mandi untuk mandi
  • Menjaga tumpukan koran, majalah atau junk mail
  • Membiarkan makanan atau sampah menumpuk dalam jumlah yang tak biasa, berlebihan, dan tidak sehat
  • Memiliki item-item yang tidak dibutuhkan atau tampaknya tidak berguna, seperti sampah atau serbet dari restoran
  • Kesulitan mengelola kegiatan sehari-hari karena penundaan dan kesulitan membuat keputusan
  • Memindahkan item dari satu tumpukan ke yang lain, tanpa membuang apa-apa
  • Kesulitan mengatur item, kadang-kadang kehilangan item penting dalam kekacauan
  • Malu atau memalukan
  • Interaksi terbatas atau tidak ada sosialisasi

Penyebab seseorang mengidap hoarding

Perilaku hoarding dapat disebabkan oleh lingkungan keluarga yang kurang harmonis dan kekurangan dari segi materi saat masih anak-anak.  Kebiasaan mengumpulkan benda dapat mulai muncul pada usia remaja dan bertambah parah hingga dewasa. Gangguan hoarding lebih mungkin dialami jika terdapat riwayat perilaku serupa dalam keluarga, namun tidak diketahui secara pasti apakah gangguan hoarding diturunkan secara genetik.

Faktor lain yang menyebabkan hoarding adalah adanya gangguan depresi dan OCD. Hal ini diperburuk jika seseorang hidup sendiri dan tidak menikah, atau gagal mengatasi kesehedihan akibat kehilangan pasangan atau anggota keluarga. Perilaku hoarding juga dapat bermula dari kencintaan pada benda yang tidak masuk akal, dan perilaku membeli barang secara berlebihan karena ia mengganggap dengan membeli barang tersebut ia akan bahagia.

Dampak dari perilaku hoarding

Perilaku hoarding memiliki tingkat keparahan yang bervariasi dari ringan hingga berat. Perilaku hoarding yang tidak terkontrol dapat berdampak terhadap beberapa hal, di antaranya:

Penurunan kualitas kehidupan. Menimbun barang membuat lingkungan tempat tinggal menjadi lebih sempit dan tidak produktif. Bahkan terlalu banyak barang di dalam rumah memicu penumpukan lapisan debu karena sulit dibersihkan sehingga dapat mempengaruhi kesehatan. Seseorang yang mengidap hoarding juga sangat sulit mengambil keputusan, bekerja, dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Konflik dengan orang terdekat. Seseorang yang mengalami hoarding tidak menyadari jika perilakunya termasuk abnormal. Gangguan tersebut biasanya baru disadari oleh orang terdekat atau oleh pengidap hoarding itu sendiri saat sudah terjadi konflik dengan keluarga atau orang yang tinggal dalam satu rumah. Perilaku hoarding dalam suatu keluarga dapat membuat hubungan menjadi kurang harmonis, mengganggu perkembangan anak, hingga menyebabkan perceraian.

Gangguan psikologis yang lebih serius. Perilaku hoarding juga bisa berupa pertanda perkembangan gangguan psikologis lainnya. Kecemasan dan stress adalah hal yang sering dialami pengidap hoarding dan dapat mengganggu kondisi kejiwaan penderita dalam waktu yang lama. Akibatnya, pengidap hoarding juga memiliki risiko gangguan makan, pola makan abnormal (pica), kehilangan konsep lingkungan eksternal (psikosis), dan dementia.

Cara Mengatasi Hoarding Disorder

Perilaku hoarding dapat diatasi dengan terapi perilaku kognitif yang bertujuan untuk mengubah pola pikir dan bagaimana seseorang bertindak. Hal ini berguna untuk mengubah konsep akan dirinya dan orang di sekitarnya. Pada akhirnya, efek dari terapi akan membantu pengidap hoarding dalam pengambilan keputusan untuk menentukan apa yang ia butuhkan dan tidak butuhkan. Jika gangguan hoarding dipicu oleh depresi, maka terapi obat antidepresan juga harus dilakukan secara berdampingan.

Demikian informasi mengenai Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Nimbun Barang Bekas yang meliputi gejala, penyebab dan cara mengatasinya. Semoga informasi diatas bermanfaat.

Terus kunjungi situs http://manfaatkoloklincapsuleuntukkesehatan.com untuk update infromasi penting serta fakta menarik seputar kesehatan.

Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Menyimpan Sampah

Hoarding Disorder, Penyakit Yang Suka Nimbun Barang Bekas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *