Si putri tidur, dongeng yang sudah dikenal dari masa ke masa, ternyata tidak seluruhnya merupakan mitos belaka. Sindrom sleeping beauty adalah suatu keadaan yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata.

Selamat datang kembali di website Alfian Herbal yang merupakan distributor resmi Green World yaitu pusat penjualan obat herbal online terbesar dan terpercaya. Kami melayani pesanan dan pengiriman ke seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri.

Pada kesempatan posting kali ini kami akan membahas seputar sindrom sleeping beauty. Sindrom sleeping beauty atau dalam dunia medis dikenal sebagai Kleine-Levin Syndrome adalah suatu kelainan neurologis yang bisa dibilang langka. Saking langkanya, dilaporkan hanya ada sekitar 1000 orang di seluruh dunia yang menderita penyakit ini. Berikut ini  hal yang perlu diketahui mengenai sindrom sleeping beauty.

Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Sindrom Sleeping Beauty

Apa itu sindrom sleeping beauty?

sleeping

Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Sindrom Sleeping Beauty – Sindrom Kleine-Levine adalah suatu penyakit neurologis langka yang uniknya biasa diderita oleh pria dewasa, sekitar 70% dari jumlah penderita sindrom sleeping beauty adalah laki-laki.

Karakterisitik utama dari penyakit ini adalah berlangsungnya periode di mana penderitanya tidur dalam jangka waktu yang lama, kira-kira lebih dari 20 jam per harinya. Periode ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Tetapi setelah periode tersebut berakhir, penderita sindrom sleeping beauty bisa beraktivitas biasa seperti layaknya orang normal.

Kasus pertama dari sindrom ini dilaporkan oleh Brierre de Boismont pada tahun 1862. Kasus ini muncul beberapa dekade sebelum timbulnya epidemik encephalitis lethargica. Tetapi baru pada tahun 1925 kasus hiperinsomnia yang terus menerus berulang dikumpulkan dan dilaporkan oleh Willi Kleine di Frankfurt. Max Levin kemudian melanjutkan penelitian terkait sindrom sleeping beauty dengan menambahkan beberapa teori yang mendukung. Sindrom sleeping beauty kemudian dinamai Kleine-Levin Syndrome oleh Critchley pada tahun 1962 setelah ia sebelumnya memantau 15 kasus terkait gejala-gejala sindrom sleeping beauty yang muncul pada prajurit-prajurit Inggris yang bertugas pada perang dunia II.

Apa saja ciri-ciri sindrom sleeping beauty?

Ciri utamanya adalah waktu tidur yang berlebihan ketika sindrom tersebut menyerang, masa-masa ini biasa disebut ‘episode’. Jika suatu episode terjadi, penderita dapat memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Penderita tidak dapat membedakan mana kenyataan mana mimpi. Tidak jarang di sela-sela berlangsungnya episode, penderita sering melamun dan terlihat seolah-olah tidak sadar dengan lingkungan sekitarnya.
  • Ketika terbangun di tengah-tengah waktu tidur panjangnya, penderita dapat bertingkah laku seperti anak kecil, merasa kebingungan, disorientasi, letargi (kehilangan energi dan merasa sangat lemas), hingga apatis atau tidak menunjukkan emosi terhadap yang terjadi di sekitarnya.
  • Penderita juga dilaporkan menjadi lebih sensitif terhadap banyak hal seperti misalnya suara dan cahaya. Kehilangan nafsu makan juga bisa terjadi ketika suatu episode sedang berlangsung. Beberapa juga menyatakan munculnya nafsu seksual yang meningkat secara tiba-tiba.
  • Sindrom sleeping beauty ini merupakan sebuah siklus. Tiap episode dapat berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan. Ketika suatu episode berlangsung, penderita tidak dapat melakukan pekerjaan layaknya orang normal seperti misalnya pergi ke kantor atau ke sekolah. Karena lebih dari setengah harinya akan digunakan untuk tidur. Mereka juga tidak bisa mengurus dirinya sendiri karena meskipun mereka terbangun, tetapi kemudian mereka akan merasa terlalu lelah, tidak punya tenaga, dan mengalami disorientasi.

Apa penyebab terjadinya sindrom sleeping beauty?

Sama seperti penyakit langka lainnya, masih belum ada penjelasan terkait apa sebenarnya yang menyebabkan terjadinya penyakit ini. Tetapi gejala-gejala yang muncul pada sindrom ini mengindikasikan adanya malfungsi kerja bagian hipotalamus dan thalamus pada otak. Kedua bagian ini pada otak berperan dalam mengatur nafsu makan serta tidur.

Bagaimana pengobatan bagi penderita sindrom sleeping beauty?

Dibandingkan dengan terapi obat, pendampingan dan penanganan di rumah saat episode sindrom sleeping beauty muncul jauh lebih ditekankan. Beberapa jenis obat dapat dikonsumsi tetapi tujuannya bukan untuk mengobati sindrom tersebut melainkan hanya mengurangi gejala-gejalanya.

Obat-obatan yang berupa stimulan seperti amfetamin, methylphenidate, dan modafinil dapat digunakan untuk mengatasi rasa kantuk berlebihan yang ditimbulkan sindrom sleeping beauty. Tetapi jenis obat-obatan tersebut dapat meningkatkan iritabilitas penderita dan tidak berpengaruh untuk mengurangi abnormalitas kemampuan kognitif yang terjadi saat episode berlangsung.

Karena itu, pengawasan dan penanganan di rumah selama episode terjadi sangatlah penting. Penderita akan mengalami kesulitan mengurus dirinya sendiri sehingga bantuan orang lain sangatlah dibutuhkan. Setelah satu episode berakhir, penderita biasanya tidak akan mengingat apa yang terjadi selama episode sindrom berlangsung. Biasanya episode-episode sindrom sleeping beauty ini lama kelamaan akan berkurang durasi dan intensitasnya. Proses ini dapat berlangsung selama 8 hingga 12 tahun lamanya.

Rangkuman Fakta seputar Sindrom Sleeping Beauty

  1. Sindrom Kleine-Levin sangat langka dan hanya terjadi pada sekitar 1.000 orang di seluruh dunia
  2. Gangguan ini dinamai oleh Willi Kleine dan Max Levin yang pertama kali didiagnosis dan menjabarkan tentang sindrom tersebut pada pasien selama abad ke-20.
  3. Pasien yang menderita gangguan ini dapat menunjukkan perubahan perilaku kognitif dan ketidakstabilan suasana hati.
  4. Banyak pasien yang terkena sindrom Kleine-Levin memiliki memori yang singkat. Ini terjadi ketika mereka kembali ke keadaan sadar.
  5. Dalam banyak kasus, orang dengan gangguan ini cenderung mengalami disorientasi dan keterampilan komunikasi yang buruk.
  6. Banyak pasien yang melaporkan mengalami halusinasi dan delusi. Bahkan ketika mereka berada dalam keadaan sadar pikiran.
  7. Meskipun penyebab sindrom ini tidak sepenuhnya diketahui, studi penelitian mengatakan bahwa hal tersebut bisa disebabkan oleh kerusakan tertentu pada otak, terutama hipotalamus.

Nah itulah informasi penting dan menarik seputar sindrom sleeping beauty atau dalam bahasa medis dikenal dengan Kleine-Levine syndrome yang dapat kami sajikan. Artikel mengenai hal yang perlu diketahui mangenai sindrom sleeping beauty diatas semgoga bisa menambah wawasan anda dan semoga bermanfaat.

Terus kunjungi situs http://manfaatkoloklincapsuleuntukkesehatan.com untuk update informasi penting, menarik dan bermanfaat mengenai info-info yang berkaitan dengan kesehatan.

Hal Yang Perlu Diketahui Mengenai Sindrom Sleeping Beauty

Hal yang Perlu Diketahui Mengenai Sindrom Sleeping Beauty

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *